header-photo

Sejarah Singkat

Pendirian Sahabat Bambu tidak terlepas dari kejadian gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada Mei 2006. Dalam masa tanggap darurat dan rekonstruksi Yogyakarta pasca gempa, banyak lembaga Nasional dan Internasional menggunakan bambu untuk membuat rumah, sekolah, balai pertemuan masyarakat, dan bangunan-bangunan lainnya. Penggunaan bambu secara besar-besaran untuk membuat rumah darurat bagi korban gempa di Yogyakarta dan sekitarnya membuat para penggagas Sahabat Bambu merasa prihatin. Karena ketidaktahuan mengenai seluk-beluk bambu maka proyek bangunan bambu pasca gempa hasilnya sangat menyedihkan karena baru beberapa bulan saja sudah rusak dimakan kumbang bubuk. Selain mubazir, pemanfaatan bambu untuk membantu korban gempa telah mendorong eksploitasi bambu, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sehingga mengancam kelestarian bambu. Dalam sehari tidak kurang dari 12.000 batang bambu apus, peting, dan wulung masuk ke gudang-gudang untuk dipabrikasi menjadi potongan-potongan bahan membuat rumah. Jumlah pohon yang ditebang tentunya jauh lebih besar dari angka itu mengingat para supplier umumnya melakukan penebangan bambu dengan cara babat habis rumpun, bukan pilih tebang.

Berdasarkan situasi tersebut tiga personil MAP-Indonesia, yaitu Jajang Agus Sonjaya, T. Lukmanul Hakim, dan Benjamin Brown membangun sebuah rencana proyek pengembangan bambu terintegrasi. Sebelumnya, ketiga penggagas ini telah beberapa tahun menggeluti bambu untuk membangun pusat-pusat belajar masyarakat pesisir, baik di Indonesia maupun luar Indonesia. Selain untuk pusat belajar, bambu juga diperkenalkan sebagai bahan pengembangan matapencaharian alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Rencana pengembangan bambu secara terintegrasi tersebut kemudian mendapat dukungan dari UNIDO dengan mensponsori pembangunan fasilitas pengawetan bambu di Cebongan. Fasilitas tersebut dibangun selama dua bulan, yaitu Desember 2006 - Januari 2007. Dalam pejalanannya, banyak pihak yang tertarik pada bambu awet, sehingga hal ini mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk mengelola bambu secara lebih profesional. Maka pada awal Februari 2007, didirikanlah Sahabat Bambu, disingkat SaBa. Setelah berjalan hampir satu tahun, maka pada tanggal 1 Desember 2007, SaBa mendirikan badan hukum usaha dalam bentuk C.V.

Visi

Terciptanya bambu yang lestari dan bermanfaat secara berkelanjutan

Misi

Mengembangkan usaha bambu dengan manajemen hulu-hilir yang berorientasi pada pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan.

Kegiatan Usaha

  1. Preservation. Usaha pengawetan bambu dengan teknologi tepat guna, efisien, dan ramah lingkungan.
  2. Conservation. Upaya pelestarian dan pemanfaatan bambu secara berkelanjutan melalui kegiatan penelitian, pengembangan, pelatihan, dan konsultasi.
  3. Construction. Membuat bangunan dan perabotan dari bambu yang telah diawetkan.

Personalia

  1. T. L. Hakim - Direktur
  2. Haritsah Kusumaningrum - Manajer Administrasi & Keuangan
  3. Jajang A. Sonjaya - Manajer Konservasi
  4. Imam Nuryanto - Manajer Konstruksi dan Produksi
  5. Ratna Fadillah - Manajer Pengawetan Bambu
  6. Widhi - Designer Freelance
  7. M. Alif Fatahudin - Staf Pengawetan
  8. Agus Wahyu - Staf Konstruksi dan Produksi Bidang Logistik
  9. Sunarko - Kepala Tukang
  10. Joko Purnomo - Office Boy

Penasihat

  1. Benjamin Brown - untuk Bidang Sosial dan Ekologi
  2. Prof. Ir. Morisco, Ph. D. - untuk Bidang Konstruksi dan Bahan
  3. Ir. Eko Prawoto, M. Arc. - untuk Bidang Arsitektur dan Instalasi Ruang

Beberapa proyek SaBa

  • Pembangunan TK Semoya Bantul & TK Mutihan Klaten, bekerjasama dengan AMURT, Maret - Juni 2007.
  • Pembangunan rumah bambu untuk Sangar Cerdas di Ledok Wetan , Dusun Duwetsari, Desa Pakembinangun, bekerjasama dengan Prof. Ir. Morisco, Ph. D, September - Desember 2007.
  • Pembangunan balai pertemuan petani/peternak di Magelang, bekerjasama dengan ESP, April 2008